*apa bedanya santri dahulu dengan sekarang?
“Bismillahi kelawan nyebut asma Allah, Arrohmani kang welas asih ingdalem donyo lan akherat, Arrohimi kang welas asih ingdalem akhirat beloko.”
Suara penuh keikhlasan itu, selalu teringiang sampai sekarang. Suara khas pak kiyaiku zaman baheula kala ngaji di Langgar [musholla kampung]. Anak-anak duduk bersila menghadap sang kiyai yang asyik bergelut mengarungi alam pemikiran sang pengarang kitab kuning. dengan teliti dan telaten, kiyaiku memaknai satu kalimat per-kalimat. Memaknainya pun tak sekedar menterjemahkan belaka. Tetapi sekaligus dibaca kedudukan katanya [tarkib] dalam sebuah kalimat.



